Berita Travel – Kenalkan, Ini Dharmasraya yang Eksotis di Tanah Minang

Share Button

Berita Travel – Kenalkan, Ini Dharmasraya yang Eksotis di Tanah Minang

img_20151214105911_566e3e8fd4f1b

Berita Travel, AonBerita- Tanah Minang identik dengan Kota Padang, namun sedikit melipir ke arah barat ada Kabupaten Dharmasraya yang bisa dilirik. Alamnya yang eksotis dan hijau, sangat menarik untuk dikunjungi.

Ini menjadi sapaan pertama setelah sekian—tenggelam dalam berbagai macam hal yaitu pekerjaan saya. Pekerjaan yang membutuhkan fokus dan intensitas yang cukup posesif. Intro sedikit, jadi ini akan menjadi satu-satunya publisitas akun saya yang unsecure dan untuk meminimalisir beredarnya hal-hal privasi dan penyalahgunaan yang tidak diinginkan. Hanya akan ada pemandangan dan gambar sejenisnya di sini.

Cerita perjalanan kali ini merupakan perjalanan paling baru yang saya lewati. Sekitar beberapa minggu yang lalu, saya mendapat pekerjaan ekstra di tanah Minang. Pekerjaan tak terduga akibat bencana asap, sehingga harus diselesaikan sebelum akhir tahun.

So, here I am. ‘Assalammu’alaikum Padang!. Ini baru pertama kalinya dan bagian serunya, selama seminggu saya akan menghabiskan waktu bukan di kota Padang, melainkan lima sampai enam jam ke arah barat dari kota Padang. Merupakan bagian paling barat dari Sumatra Barat.

Itulah Kabupaten Dharmasraya. Si eksotis yang masih hijau dan ganteng. Saya dengar dari orang sekitar nama tersebut berasal dari nama suatu kerajaan di Padang.

Perjalanan cukup menyenangkan dan melelahan, karena kami harus langsung masuk dan mengejar pekerjaan yang juga menuntut untuk diselesaikan dalam tiga hari (normalnya seminggu), tapi semua terbayarkan dengan pemandangan sepanjang jalan. Melewati berbukit-bukit yang eksotis banget, hijau dimana-mana, hutannya masih wangi.

Perjalanan kita kadang kala berhenti dengan adanya monyet besar (beruk), kerbau liar, dan ular yang sedang menyeberang jalan. Pemandangan ini tidak akan ditemukan di Semarang, tempat saya tinggal. Perjalanan darat kami menggunakan transportasi pribadi karena kata pengemudi kami transportasi umum di sini cukup susah.

Penduduk biasanya menggunakan sepeda motor untuk transportasi sehari-hari and asal kalian tahu, jarak satu rumah ke rumah yang lain itu luas banget. Hari-hari berikutnya saya tahu bahwa setiap rumah dan lahan milik penduduk berada dalam hitungan ribuan meter, dengan harga tanah setara beberapa meter saja di Semarang. Sudah seperti punya lapangan bola sendiri.

Dharmasraya tempat saya tinggal selama seminggu merupakan Kabupaten yang masih sepi. Hotel tempat kami tinggal semacam homestay dan merupakan tempat menginap satu-satunya. Ya, ini seperti perkiraan saya dan bukan menjadi masalah untuk tidur dimana pun.

Penduduk mayoritas Dharmasraya merupakan petani kelapa sawit dan karet. Dari masyarakat setempat, saya juga tahu bahwa sebagian besar penduduk merupakan warga Jawa yang bertransmigrasi dari pembuatan Waduk Gajah Mungkur di Wonogiri, Jawa Tengah. Jadi serasa di rumah saja.

Penduduk transmigrasi merupakan program dalam pemerintahan masa presiden Soeharto. Setiap penduduk yang pindah mendapat sejumlah lahan, rumah, dan tunjangan hidup selama beberapa bulan di awal kepindahan. Penduduk sekitar mengatakan bahwa kebanyakan dari mereka sukses membuka lahan, bertani, maupun berdagang. Sangat senang mendengar hal ini.

Namun, saaat kami singgah kondisi ekonomi untuk kedua komoditas mayoritas tersebut sedang tidak baik, sehingga berimbas ke perekonomian masyarakat. Harga kelapa sawit sempat anjlok hingga mencapai setengah dari harga normal. Rakyat kecil bisa apa? Mau tidak mau harga panen mereka hanya akan berakhir di pembeli yang sama. Sementara selain faktor cuaca yang membuat kualitas panen kurang baik, muncul juga komoditas sawit lain yang lebih berkualitas dari luar.

[aonberita]

Share Button

Comments

comments