Berita Travel – Di Bukittingi yang Penuh Misteri, Lobang Jepang

Share Button

Berita Travel – Di Bukittingi yang Penuh Misteri, Lobang Jepang

65923-0_663_382

Berita Travel, AonBerita-  Akhir pekan di Bukittinggi, banyak objek wisata yang bisa didatangi bersama keluarga. Tak hanya Jam Gadang yang populer, ada juga Lobang Jepang yang penuh misteri.

Penjajah yang pernah menduduki Indonesia sebelum kemerdekaan, baik itu Belanda maupun Jepang selalu meninggalkan bangunan yang memiliki nilai sejarah. Jika Belanda meninggalkan bangunan berupa gedung berarsitektur khas Eropa, lain halnya dengan Jepang yang banyak meninggalkan gua ataupun lobang yang dulunya digunakan sebagai basis pertahanan militer.

Salah satu lobang yang peninggalan penjajahan Jepang bisa ditemui di Bukitinggi, tepatnya di Bukit Sihanok yang berada dalam kawasan obyek wisata Taman Panorama Bukittinggi di Jalan Panorama Bukittinggi.

Untuk masuk ke dalam Lobang Jepang, ada baiknya ditemani pemandu sehingga kita bisa mengenal sejarah dan cerita apa saja yang terjadi terkait dengan lobang ini. Jika menggunakan jasa pemandu maka kita wajib membayar uang jasa yang telah ditetapkan sebesar Rp 70 ribu.

Uang tersebut sebanding dengan cerita yang kita dapatkan sepanjang menyelusuri lobang yang memiliki panjang 1470 m dan lebar 2 m ini. Di awal memasuki lobang, kita akan berjalan menuruni anak tangga sejumlah 132. Tidak perlu khawatir saat berada di dalam lobang ini karena pihak pengelola telah memasang lampu neon di tiap sisi sehingga penerangannya cukup baik.

Lobang Jepang Bukittingi memiliki 21 lorong kecil dengan berbagai fungsi mulai dari sebagai ruang amunisi, ruang pertemuan, pintu pelarian, ruang penyergapan serta penjara. Setiap ruang yang kami lewati, sang pemandu yang menemani kami selalu bersemangat untuk bercerita.

Yang paling menarik perhatiaan ialah saat ia bercerita mengenai ruang penjara, dapur dan ruang pengintaian yang lokasinya saling berdekatan. Ruang penjara sudah tentu merupakan ruang tahanan bagi para romusha yang dinilai membangkang atau sudah tidak bisa diperkerjakan lagi.

Apabila mereka tewas, maka mayatnya akan dipotong-potong di meja yang berada di ruang dapur kemudian potongan tersebut di buang melalui lubang kecil yang berada di pojok kiri bawah ruang pengintaian. Ujung dari lubang tersebut ialah sungai yang berada di Ngarai Sianok.

Meski terlihat kecil dari luar, ternyata lubang tersebut memiliki lebar 1 m dan tinggi 2 m 15 cm. Cerita mengerikan ini cukup membuat bulu roma berdiri bagi siapa saja yang mendengarnya.

Sejarah lain yang kami dapatkan dari penjelasan guide yang menemani ialah Lobang Jepang Bukittinggi dibuat atas instruksi Letjen Moritake Tanabe, Panglima Divisi ke 25 Angkatan Darat Balatentara Jepang. Dibuat setelah Jepang berhasil menguasai Bukittingi dari tangan Belanda pada Maret 1942.

Untuk membangun lubang ini, pihak Jepang memerintahkan Romusha (tenaga kerja paksa masa penjajahan Jepang) yang berasal dari Jawa, Kalimantan dan Sulawesi. Penggunaan tenaga Romusha dari luar Bukittingi dengan maksud menjaga kerahasian lubang ini.

Orang Bukittinggi sendiri justru dikirim ke wilayah lain seperti Pulau Biak dan Bandung di mana di kedua tempat tersebut, kita juga bisa menemui lubang peninggalan Jepang.

Di penghujung penjelajahan lobang ini, pemandu kami memberikan informasi yang masih menjadi sebuah misteri dan belum bisa terjawab hingga saat ini. Hal itu mengenai berapa banyak tanah hasil galian untuk membuat lubang ini dan di kemanakan tanah tersebut?

Pernah dibuat suatu penelitian mengenai tanah yang ada di sungai namun ternyata hasilnya tidak sesuai. Lalu, berapa jumlah Romusha yang diperkerjakan dan tewas saat mengerjakan lobang ini? Semuanya masih menjadi misteri.

Jadi, saat mengunjungi Bukittinggi luangkanlah waktu untuk mengunjungi Lobang Jepang. Ketika mendapatkan cerita mengenai penderitaan masa penjajahan, menjadi pengingat kita untuk tetap menjaga keutuhan Negeri Indonesia tercinta supaya sejarah kelam zaman penjajahan tidak terulang kembali.

[aonberita]

Share Button

Comments

comments